Showing posts with label permenungan. Show all posts
Showing posts with label permenungan. Show all posts

24 April 2011

Paskah : Janji setia kita terhadap Tuhan

Berita sukacita kebangkitan Tuhan diperdengarkan pertama kali kepada 2 orang 'gagal', kenapa kita harus percaya?

Renungan paskah ini bukan murni dari saya, ini adalah intisari homili 2 Pastor di Paroki saya. Menurut saya sangat bermakna ketika saya mencoba menggali pada konteks pribadi saya (dan mungkin juga anda).

23 January 2011

Guru teladan (baca : telatan)

Jarum Jam di arloji saya sudah menunjukkan angka 7, memberi isyarat kepada saya untuk segera masuk kelas dan mendampingi anak-anak belajar seperti biasanya. Akan tetapi, ketika saya kitarkan pandangan di dalam ruang kantor guru, tak satupun orang ada di sini rupanya. Kemana mereka? Sudahlah masuk kelas saja...pikirku sambil berjalan menuju kelas.

Setengah jam pertama di depan kelas saya mengajar dengan hati yang tidak tenang. Sesekali saya sempatkan memandang pintu kalau-kalau ada guru lain yang datang. Tapi rupanya, sudah 30 menit kelas-kelas disebelah dibiarkan kosong, baru 5 menit kemudian ada satu guru yang datang. Syukurlah... Tapi saya masih terus berpikir. Kemana yang lainnya?

Pada kesempatan lain, saya benar-benar habis kesabaran karena beberapa anak datang terlambat waktu jam saya mengajar. Saya mulai berceramah menunjukkan kekecewaan saya dengan anak-anak tersebut. Sampai pada satu kesempatan saya bertanya pada mereka : “Apa kalian tidak melihat, Bapak ibu guru kalian sudah datang di sini pagi-pagi, sudah siap mengajak kalian belajar bersama? Kalian ini butuh belajar to? Kalau bapak ibu guru saja bisa berangkat pagi, kenapa kalian yang butuh ini malah terlambat?” dan tanpa saya duga, ada anak yang berani menjawab : “gurunya juga banyak yang terlambat pak.” Deg!! Mati aku, kalau sudah begini saya hanya bisa diam.

Saya tidak tahu sejak kapan dan mau sampai kapan hal ini dibiarkan terjadi. Kalau sesuatu hal yang buruk justru tercermin pada diri guru, maka benarlah bahwa kita tidak bisa sama sekali menyalahkan murid.

13 June 2010

GURU V2.0 Final released

GURU V2.0 Final released (freeware)

Kapan ya guru-guru bisa seperti ini? kembali bekerja tanpa pamrih, murah senyum, visioner & misioner, good manners, dan menarik bagi siswa?

12 June 2010

Belas Kasih Tuhan

Pondasi dasar kita sebagai orang Katolik adalah kesadaran dan keyakinan bahwa kita hidup semata-mata karena belas kasih Tuhan. Begitu inti khotbah Rm. Eka pada misa sore ini. Bahkan beliau berkata dengan tegas "kalau anda tidak tau kapan bentuk nyata belas kasihan Tuhan menyentuh anda berarti anda harus pengakuan dosa!"


wah, mendengar kalimat itu tanpa pikir panjang saya mencoba melihat kembali apa saja yang telah saya alami . tanpa butuh waktu lama kenangan saya berhenti pada satu peristiwa yang telah mengubah orientasi saya. Dulu sekali tidak terlintas di pikiran saya untuk menjadi seorang guru, bahkan saya tidak begitu suka dengan yang namanya anak-anak (tampaknya juga mereka tak menyukai saya). Tapi dengan satu momen indah itu saya berbalik 180 derajat. 

Belas kasih Tuhan seringkali terasa bagi kita ketika kita sedang menderita (meski sebenarnya tidak hanya demikian). Begitu juga yang saya alami, ketika saya merasa betul-betul sendiri dan ditinggalkan, rupanya tangan Tuhan menyapa dengan cara tak terduga waktu itu. takkan pernah saya lupakan tatapan tulus dari anak itu ketika dia mengajak saya ikut bermain, mungkin dia kasihan melihat saya terlihat begitu kesepian dan hilang harapan waktu itu, mungkin malaikat Tuhan yang membisikkan kepadanya untuk menghibur saya, siapa tahu? yang pasti waktu itu adalah pertama kalinya saya bermain dengan anak-anak kecil, dan ikut bersenang-senang dengan mereka sehingga masalah yang membebani saya betul-betul terlupakan. dan mulai saat itu saya betul-betul mengubah arah, saya bertekad menjadi seorang guru.

11 June 2010

Negeriku menggila

Belum cukup saya dibosankan dengan ulah para politisi dan kaum "papan atas" yang belakangan sibuk korupsi(baca:menutupi korupsi, saling tuding, sampai akhirnya... akhirnya... apa ya akhirnya? mm sampai akhirnya menuju pada kesimpulan pribadi saya bahwa mereka (menuding-tertuding) itu sama-sama korup. duh kayak anak kecil aja masih suka main tuding...

19 October 2009

Melayani sepenuh hati


Seorang bapak siang itu tampak tergesa-gesa keluar dari rumahnya hendak ke sekolah untuk memberi tambahan jam pelajaran di sekolahnya karena dia adalah guru di sekolah itu. Sekolahnya berjarak kurang lebih setengah jam perjalanan dengan menggunakan sepeda onthel-nya.
Baru beberapa meter dari rumahnya munculah dalam benaknya pikiran-pikiran yang mengganggu pikirannya, tentang nasibnya yang tidak kunjung membaik padahal dia sudah berusaha menekan diri untuk hidup sederhana, tentang gajina yang terlalu kecil untuk membeli seuatu selain kebutuhan pokok, tentang kendaraan yang dipakainya ke sekolah yang makin hari tampaknya semakin ditinggalkan orang karena banyak orang yang beralih menggunakan kendaraan bermotor sedangkan dia hanya mampu memiliki sepeda onthel, itupun dalam kondisi yang jauh dari kesan mewah. Berpuluh-puluh harapan tak tergapai itu semakin mengganggu saja dalam benaknya, “Duh Gusti, kapan saya punya kesempatan sedikit bersenang-senang dengan memiliki apa yang orang-orang miliki itu?” begitu ratapnya dalam hati. Sedetik kemudian dia tersadar bahwa ternyata dari tadi dia menggerutu ternyata dia belum juga keluar dari desanya, dia segera menyadarinya. Setelah melirik sebentar ke arlojinya dia berusaha mngayuh sepedanya lebih kencang, namun baru beberapa kayuh dia melihat pemandangan tak biasa di salah satu rumah tetangganya.
Tetangga sang bapak adalah seorang wanita setengah baya yang lumpuh, dia tinggal di rumah kontrakannya berdua dengan anak perempuannya yang masih usia TK. Ya, dia hanya tinggal berdua dengan anaknya di rumah itu, suaminya sudah meninggal beberapa bulan sebelumnya. Siang itu di kursi rodanya sang ibu tampak menangis dan berteriak tertahan dari pintu menunggu ada orang yang membantu. Sang bapak segera menghampiri ibu itu untuk mencari tahu ada apa gerangan sehingga dia tampak begitu sedih. Sesaat kemudian ibu itu menunjukkan kepada sang bapak kondisi anaknya. Anak tersebut terbaring lemah di tempat tidurnya. Sang bapak memeriksa dahi si anak, betul saja dahinya panas tinggi. Tanpa pikir panjang sang bapak segera menggendongnya dan mengantarnya ke puskesmas dengan naik becak.
Pulang dari puskesmas sang anak menatap bapak itu, dengan lugu anak itu bertanya: “Pak, apakah bapak malaikat Tuhan?” dasar anak-anak, pikir bapak itu. Dia tersenyum tapi rupanya anak itu bertanya lagi “apa bapak tadi baru saja bertemu dengan Tuhan?” sang bapak terdiam lalu bertanya balik “hmm, mungkin saja..memangnya kenapa?”
“waktu di tempat tidur tadi saya sangat sedih, saya tidak bisa menahan rasa sakit saya, dalam hati saya berdoa pada Tuhan untuk meminta malaikat-Nya menolong saya”.
Sang bapak pun terdiam, dia menyesali sikapnya saat berangkat tadi, dan meminta maaf atas ketamakan dan kesombongannya yang menyalahkan Tuhan atas nasibnya.
Begitulah kita sering merasa tidak puas dengan diri kita. Dalam pelayanan kita, tak jarang kita menggerutu, kita lebih senang melihat hijaunya pagar tetangga daripada introspeksi diri. Padahal sebetulnya dengan hal-hal kecil yang kita miliki kita selalu punya kesempatan untuk melayani orang lain.
Bukankah kita ini murid-murid Kristus?
Bukankah Kristus sendiri memberi teladan pelayanan yang sungguh luar biasa bagi kita? –Lahir dalam kondisi yang tak layak bagi seorang anak manusia, dan mati sebagai orang paling hina dimata dunia, padahal Dia mati untuk kita, untuk menebus dosa-dosa kita?

11 October 2009

Doa Seorang Guru

Kristus Tuhan,

Engkau mengenal saya, saya seorang guru. Saya sendiri tidak tahu kenapa saya jadi guru, Tetapi saya cukup senang, Tentu saja Tuhan, pahitnya banyak : ada murid yang kurang ajar dan orang tua yang cerewet, dan gaji yang pas-pasan. Namun itu jadi terlupakan jika dibandingkan dengan manisnya : murid yang lucu dan suka tersenyum, murid yang sopan, rajin dan cerdas, murid yang tulisannya rapi, orang tua yang bijak, dan Pengurus Yayasan yang bersahabat. Apalagi melihat murid yang bertumbuh, Dulu takut dan ragu-ragu, kemudian menjadi percaya diri, Dulu malas, sekarang pekerja keras, Dulu bodoh, sekarang pandai. Dulu cuma memikirkan diri sendiri, sekarang suka menolong. Sungguh senang Tuhan, melihat mereka bertumbuh.

07 October 2009

Plato & Socrates; tentang cinta

Suatu hari, Plato bertanya kepada gurunya (Socrates), Apa itu cinta?
Bagaimana saya bisa menemukannya?

Gurunya menjawab, Ada ladang gandum yang luas di depan sana.

Berjalanlah, tetapi jangan mundur kembali, kemudian ambillah satu buah ranting.

Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta.

Plato kemudian berjalan, tidak berapa lama kemudian ia kembali dengan tangan kosong tanpa membawa apapun.

Gurunya bertanya, Mengapa kamu tidak membawa satu ranting pun?

Plato menjawab, Aku hanya boleh membawa satu saja dan saat berjalan tidak boleh munduk kembali (berbalik). Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tidak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi ranting tersebut tidak kuambil.

Setelah aku melanjutkan perjalanan, baru aku sadar bahwa ranting-ranting yang kutemukan kemudian tidak sebagus ranting yang tadi, jadi akhirnya tak sebatang ranting pun yang kuambil.

Guru menjawab, Itulah yang dimaksud dengan cinta.



Beberapa hari kemudian, Plato kembali bertanya kepada gurunya, Apa itu perkawinan?
Bagaimana saya bisa menemukannya?

Gurunya menjawab, Ada hutan yang subur di depan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Jika kamu
menemukan pohon yang paling tinggi, tebanglah.

Dengan begitu artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan.

Plato kemudian berjalan dan tidak berapa lama kemudian ia kembali dengan membwa sebuah pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.

Gurunya bertanya, Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?


Plato menjawab, Berdasarkan pengalamanku sebelumnya, ternyata aku kembali dengan tangan kosong.

Jadi pada kesempatan ini, aku lihat pohon ini dan kurasa tidak terlalu buruk.

Jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya ke sini. Aku tidak mau kehilangan kesempatan untuk mendapatkannya.

Gurunya menjawab, Itulah yang dimaksud dengan perkawinan.




Cinta itu semakin dicari, semakin tidak ditemukan.

Cinta adanya di dalam lubuk hati,

ketika kita dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih.

Ketika pengharapan dan keinginan berlebihan akan cinta,

maka yang didapat adalah kehampaan.

Tak ada satupun yang didapat serta tidak dapat dimundurkan kembali.

Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur.

Terima cinta apa adanya.




Perkawinan adalah kelanjutan dari cinta.

Perkawinan merupakan proses mendapatkan kesempatan.

Ketika kau mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada,

maka kau akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya.

Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia-sialah waktumu untuk mendapatkan
perkawinan itu.

Karena kesempurnaan itu hampa adanya.

DANTI KUKULWATI

Ini hanyalah sebuah dongeng yang biasa dikisahkan anak-anak kepada ibunya sebelum sang ibu merebahkan tubuhnya di peraduan. Dan, pelan-pelan—sambil memeluk boneka kesayangan—sang ibu hanyat dalam lelap impian.
“Kepada ibu, kau hanya menceritakan dongeng tentang negeri-negeri yang jauh dan dingin bersalju : cinderella, Thumbelina, Alice in Wonderland, Emperor’s New Suit dan Lady Mermaid. Tidak adakah dongengan indah tumbuh dari negeri tropis yang hangat, Nak?”
“Negeri-negeri jauh, salju dan laut biru selalu menyimpan eksotisme tersendiri,Bu. Sementara negeri tropis lebih banyak menyimpan sejarah yang berdarah. Justru karena kita begitu dekat dengannya. Tetapi jangan risau, Bu, karena keindahan adalah milik semesta. Ia ada di mana-mana. Di negeri dingin bersalju atau di negeri permai dengann nyiur melambai. Bukankah wangi bunga-bunga padma juga lebih sering ditemukan di atas lumpur rawa-rawa?”
“Kalau begitu, ceritakanlah keindahan itu padaku, Nak”
maka, demikianlah, anak itu bercerita kepada ibunya, meskipun tak yakin bahwa ceritanya mengandung keindahan seperti yang diharapkan oleh ibunya.

Konon, pada zaman ini ada seorang gadis yang mencintai wajahnya sendiri. Gadis itu bernama danti Kukulwati. Ia seorang gadis biasa—tentu saja—seperti gadis-gadis lain pada umumnya. Ia bukan peri, bukan puteri atau permaisuri—seperti yang sering digambarkan dalam dongeng-dongeng Parsi—meski ia pun cantik.
Danti seorang mahasiswi di sebuah perguruan tinggi. Sebagai mahasiswi, danti cukup pintar dan rajin kulish. Ia jarang membolos. Tetapi hari ini, Danti tidak masuk kuliah gara-gara ada jerawat tumbuh di hidungnya yang mungil. Jerawat itu berwarna merah, di tengahnya ada putih serupa nanah. Dan Danti sangat membencinya. Ia seperti sepercik noda pada susu sebelanga. Sepucuk duri pada kenyal daging wajahnya. Ia tak habis pikir bagaimana jerawat itu bisa tumbuh di sana. Padahal, ia rajin mencuci wajahnya dengan facial foam anti acne. Ia tidak pernah makan makanan berlemak dan berminyak, apalagi makan kacang yang konon dapat membuat jerawat tumbuh lebat. Pokoknya segala cara telah ia lakukan demi menghindari tumbuhnya jerawat sialan itu. toh jerawat itu datang juga. Tepat di hidungnya. Danti merasa dikhianati entah oleh siapa. Mungkin oleh tubuhnya sendiri. ia berpaling kepada cermin dan memandangi wajahnya di seberang sana. “Aku masih begitu muda. Mungkins ekarang ini sedang cantik-cantiknya.” Danti memandangi bagian tubuhnya satu per satu. Rambutnya, seperti rambut bintang iklan samphoo: lurus, hitam dan panjang. Matanya bening, sebening air telaga tempat para pengembara membasuh muka dan melepas dahaga. Bibrnya merah, semerah manggis terbelah. Dagunya, pipinya, lentik lembut bulu matanya. Semua nyaris sempurna. “Tak dapat tiada, pemiliknya pasti seorang peri yang baru turun dari surga.” Begitulah Danti sepakat dengan kesimpulannya sendiri. ia masih mengagumi wajahnya di depan kaca. Persis seperti Narciscus memandangi wajahnya yang mengambang di permukaan kolam dan kemudian tercebur ke dalamnya. Tapi danti tidak tercebur ke dalam cerminnya. Ia hanya merasa getir ketika pandangnya tertumbuk pada sebutir jerawat di hidungnya. Tak adakah kecantikan yang sempurna sehingga setiap keindahan harus dibuntuti oleh bayang-bayangnya. Kecantikan selalu dibayangi ketuaan. Dan keabadian dibayangi kesementaraan. Atau Tuhan takut tergoda seandainya di atas bumi ini ada manusia yang cantik begitu rupa sampai membuatnya atak sempat memejamkan mata atau sejenak lupa mengatur peredaran planit dan gerak semesta. Danti menyadari bahwa kecantikannya tak mungkin abadi. Sungguh pun ia ingin selalu menunda perjalanan usia menuju kutub bernama tua.
“Akh, seandainya kau tidak pernah ada<” katanya kepada jerawat, “tentu aku akan lebih bahagia. Aku akan merasa lebih berharga. Dengan percaya diri , aku akan kuliah tiap hari, duduk di bangku paling depan, mendengarkan kuliah dengan cermat dan...” Danti mengeluhkan nasibnya tapi seseorang yang di dalam kaca itu diam saja. Malah seperti ingin memalingkan muka. Danti merasa kesal. Ia ingin memecah cerminnya. Tetapi diurungkannya. Ia melemparkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tetapi bukan untuk tidur. Di dinding tergantung sebuah jam. Detik-detik waktu terus berjalan tapi tak pernah merasa bosan dan tak perlu merasa tua. Biar pun usianya mungkin lebih purba dari semesta. Ia mencatat setiap kejadian di dunia. Dan, dengan rasa bangga sekaligus terluka, mengamati segala perubahan yagn ada. Perubahantentang cara manusia memandang dirinya. Tentang cara wanita memandang kecantikannya. Danti merasa iri pada jam dinding itu atau pada waktu yang bersemayam di situ. Danti menerawang. Pandangan matanya tersebar di langit-langit kamar. Tiba-tiba telinganya menangkap suara hujan, suara burung bernyanyi atau merintih mencari persembunyian di bawah rimbun dedaunan. Suara yang begitu biasa tetapi mendadak terasa lain di telinganya. Ia baru sadar bahwa sejak menginggalkan kampungnya setahun yang lalu, ia menjadi begitu sibuk dengan kuliah, dan bukan kuliah. Di kepalanya, berjejal diktat-diktat pengetahuan. Di matanya, tergambar iklan-iklan kecantikan. Di telinganya, terdengar musik dan hingar-bingar diskotik. Dan tidak ada tempat untuk ricik hujan, desir angin, hawa dingin pegunungan, dan kicau burung di pepohonan. Suara hujan itu mengantarkannya pada sebuah kenangan saat ia masih kanak-kanak dan suka bermain di bawah hujan. Mendengarkan bunyi ‘tik-tik-tik’di atas genting. Atau, berjingkrak-jingkrak kegirangan sambil kedua tangan berusaha menangkap tetes-tetes hujan. Dan ibu menanti di depan pintu dengan segenap amarah. Lalu meluncurlah berbagai nasihat dan ceramah bahwa bermain hujan dapat menyebabkan demam, pakaian kotor dan ibu harus banyak mencuci dsb dsb. Ibu. Tiba-tiba Danti rindu pada ibunya. Ibunya seorang perempuan desa yagn sederhana, yang menganggap kecantikan fisik bukanlah hal yang utama. “kelembutan jiwa dan kehalusan budilah yang utama. Bunga-bunga boleh saja punya mahkota warna-warni yang membuatnya cantik bak peri dari negri mimpi. Tetapi, hakikat sebuah bunga terletak pada bijinya. Pun wanita. Boleh saja ia berwajah cantik, berkaki panjang, berleher jenjang, berdada besar dsb dsb, tetapi hakikat wanita ada di rahimnya. Kaena di sanalah ia mengandung dan merawat kehidupan, karena dari sanalah terpancar aura keibuan.” Begitulah suatu hari ibunya pernah berpesan. Sejenak Danti teringat pada pesan yang pernah ia lupakan bahkan mungkin dianggapnya tak pernah ada dalam kehidupan. “Ibu perempuan terbaik yang pernah kukenal. Seutuhnya ia memiliki kriteria keibuan. Hanya saja, ia tak pernah tahu betapa menderitanya wanita yang punya jerawat di wajahnya” dan nasihat ibunya kembali terbang di udara. Ini bukanlah gejala yang patut dirisaukan. Karena ini adalah zaman ketika para ibu tak lagi berhak mendidik anak-anaknya. Pendidikan telah sepenuhnya diserahkan kepada televisi, iklan, fashion, mall dan teman-teman sebaya mereka. Kaena itu, tidak taat pada orang tua bukanlah kejahatan yang harus diancam dengan hukuman apalagi sampai dituduh sebagai dosa yang ujung-ujungnya adalah neraka. Toh, anak-anak kita telah amnesia pada kosakata purba nan kadaluarsa seperti dosa, neraka dll. Pun Danti yang tadinya anak sederhana dari sebuah desa kecil yang namanya tak ada dalam peta, yang suka bermain di kali tanpa sandal dan dengan kaki korengan, kini telah manjadimahasiswi yang harus selalu tampil modis dan trendy, yang menjadi tidak percaya diri hanya karena ada jerawat di wajahnya. Sejak kapan manusia harus memuja keindahan raga? Dan kenapa wanita harus berjuang keras untuk mendapatkan kecantikan sempurna yang toh akan hancur juga. “Suatu saat, Ti,” tiba-tiba Danti mendengar lagi suara ibunya, sepeti dikabarkan oleh angin dari sebuah tempat teduh nun jauh di sana, “Kecantikan harus menyerahkan dirinya kepada usia. Kau pikir kau bisa memilih untuk tidak menjadi tua, keriput dan berwajah menyeramkan? Karena itu, Ti, tak ada artinya berjuang keras hanya untuk sesuatu yang kau tahu akan sia-sia. Bukannya ibu menyuruhmu untuk meremehkan tubuhmu. Ibu bangga punya anak gadis yang ayu rupawan dan tetap perawan sampai malam pertama pernikahan. Namun, ibu lebih bangga lagi mempunyai anak gadis yang baik hati dan berbudi luhur, yang tahu tata krama dan sopan-santun.” “Bagaimana mungkin aku—seorang wanita—tidak memperhatikan penampilan sementara banyak teman pria merasa harus selalu rapi dan wangi, harus rajin ke salon, mencukur kumis, memotong kuku, memakai parfum,..” protes Danti tetapi cukup dalam hati. Ibu tak pernah sekolah. Ia hanya berteman dengan perabot rumah tangga dan sayur-sayuran serta padi menguning di sawah. Tapi kenapa tiba-tiba ia menjdi pembela mazhab Platonis dan Augustinian yang begitu memuja jiwa. Sementara zaman telah sempurna berputar haluan. Orang-orang lebih memuja keindahan raga dan segala yang dapat disentuh dan dinikmati dengan indera. Bukankah badan juga cermin dari jiwa? Aku merawat tubuhku sebagai sebentuk penghormatan kepada hidupku. Danti seperti menemukan apologia atas perilakunya. Danti kembali menghadap cerminnya. Bayangan di seberang sana menatapnya begitu rupa sampai Danti merasa tersakiti olehnya. Tatapna itu seperti menelanjanginya, menjadikan dirinya sebuah objek. Tatapan itu tepat menghunjam ujung hidungnya tempat dimana jerawat sialan itu bertahta. Begitu juga ia bayangkan pandangan orang-orang yang nanti bertemu dnegannya. Dan Danti tidak msuk kuliah selama beberapa hari. sampai jerawatnya pulih benar dan ia bisa berangkat kuliah dengan wajah berbinar. Dongeng ini sebelumnya belum tamat. Tetapi si anak telah mulai mengantuk. Karena itu, ceritanya mulai tidak karuan dan agak hilang imajinasi puitiknya. Sedangkan sang ibu sudah sejak tadi telelap. Mungkin ia sudah bermimpi tentang negri jauh yang penuh bunga warna-warni saat musim semi atau sebuah negeri tropis yang hangat dan tanahnya sangat subur sehingga nyaris seluruhnya adalah hutan lebat. Atau barangkali sebuah negeri baru, bekas negeri tropis yang telah kehabisan hutan dan tinggal bangunan-bangunan tinggi menjulang—seolah ingin menyembunyikan kemiskinan. Apa boleh buat, dongeng ini harus diahiri meski belum tamat. Toh dongeng ini bukan satu-satunya. Di dunia ketiga ini masih banyak dongeng serupa. Tentang Elena yang tidak latihan menari gara-gara kehabisan parfum padahal ia takut pada kecut bau keringatnya sendiri. buuurket, kata-teman-temannya. Tentang Astri yang nggak jadi menyanyi gara-gara wignya tertinggal di kamar mandi. Tentang mbah Ratmi yang nggak jadi jualan gorengan di pasar gara-gara gigi emasnya terjatuh di jalan. Tentang dhik Dewi yang nggak jadi sekolah gara-gara belum dibelikan kalung mungil dengan liontin bunga melati seperti yang pernah dibayangkannya melingkar di leher cinderela. Dan cerita indah lainnya yang anda sendiri dapat mengerti maksudnya. Inikah yang telah diberikan peradaban pada manusia? Atau hanya orang di negeri ini saja begitu bangga mengalaminya. Sebelum tidur di smping ibunya, anak itu masih sempat meraba hidungnya. Dan ia merasa ada yang menusuk-nusuk hatinya.

25 April 2009

Kerja keras

Berawal dari bangun tidur mata saya terpaku pada sesuatu yang bergerak di dinding..(jangan horor dulu!)
Saya melihat sesuatu yang kecil-mungkin seukuran ujung kuku manusia-sepertinya benda itu adalah potongan rumah lebah namun bisa bergerak!
Saya rapatkan pandangan saya dari dinding, mencoba melihat dari sisi yang berbeda untuk mengetahui apa sebenarnya yang bisa membuat benda itu bergerak.
Ternyata, ada seekor semut kecil yang menariknya dengan capit yang dimilikinya. Kalau dilihat dari ukuran, semut itu hanya sebesar sepersepuluh dari benda itu, dan sepertinya dia ingin membawa benda itu hingga atap rumah yang kira-kira setinggi 4m!. Sungguh usaha yang keras.
Bisa kita bayangkan, betapa berat beban yang harus dia tanggung untuk membawa benda itu sendirian hingga atas. Mungkin kita berpikir, karena semut tidak mempunyai kemampuan berpikir dìa mau mengangkat benda itu hingga atap rumah yang jaraknya ratusan kali lipat ukuran tubuhnya. Namun, bagaimana jika ternyata semut itu sebenarnya juga berpikir, bagaimana jika dia berpikir di atas sana koloninya sangat membutuhkan makanan dan rumah lebah ini pastilah sangat enak untuk dimakan, maka aku harus membawanya bagaimanapun keadaannya?
Memang saya tidak bisa memastikan mana yang benar, pemikiran kita bahwa semut itu melakukan tindakan bodoh atau justru heroik. Namun saya akui, sungguh usaha yang luar biasa yang dilakukan semut itu, mengangkat benda yg ukurannya lebih dari 10 kali tubuhnya dan berjarak ratusan atau ribuan kali ukuran tubuhnya dan masih harus melawan gravitasi bumi.
Bagi semut itu capek adalah kegagalan, karena begitu dia capek dan beristirahat kemungkinan besar dia akan jatuh menyerah dengan gravitasi. Jadi dia terus melangkah maju.
Saya berpikir, barangkali posisi yang sama seperti saat saya mengamati semut itu begitu pulalah Tuhan mengamati kita. Saat saya melihat semut itu mengangkat dengan cepat saya ikut antusias melihatnya, saat semut itu melambat rasa khawatir bahwa semut itu akan menyerah muncul dalam benak saya, bisa saja saya membantu semut itu dengan memindahkan rumah lebah itu sampai atas, namun belum tentu dia mengerti bahwa saya melakukan itu untuk membantu dia. Barangkali sama dengan Tuhan, Dia melihat kerja keras kita, dan ikut prihatin saat kita dalam keputusasaan. Dan Tuhan pun sebenarnya bisa secara langsung membantu kita, namun seperti semut tadi, mungkin kita tidak mengerti maksudnya, Tuhan pasti lebih ingin kita puas akan apa yang kita peroleh dari hasil jerih payah kita, seperti saya berharap semut tadi bisa berhasil sampai atas dengan membawa rumah lebah tadi.
Semoga bermanfaat bagi kita semua yang sedang dalam kegalauan.
Semoga Tuhan memberkati.

29 March 2009

Iman Yang luar biasa

Alkisah di suatu desa tinggalah seorang petani yg sederhana, dia tinggal di sebuah gubuk sederhana bersama seorang anak laki-lakinya dan seekor kuda jantan piaraannya.
Suatu ketika, kuda bapak petani itu lepas dari kandang dan tidak pulang selama beberapa hari. Karena mendengar hal itu, tetangga bapak petani merasa kasihan, dan mencoba menyampaikan rasa belasungkawanya kepada bapak tani. Dia berkata: "pak, saya ikut berbelasungkawa ya atas kepergian kudamu". Lantas, bapak petani menjawab: "saya tidak tahu saya sedang untung atau rugi sekarang, hanya Tuhan yang tahu"

1minggu berlalu, dan pada hari yang ke delapan ternyata si kuda pulang kembali ke rumah bapak petani dan ia tidak sendiri! Melainkan membawa 'pacar'nya. Tidak tanggung-tanggung dia membawa 4 kuda betina yg masih liar, sekonyong-konyong petani itu menjadi kaya, kudanya sekarang menjadi 5 ekor. Mendengar hal itu, tetangga petani datang lagi dan berkata pada bapak tani: "pak, saya sungguh ikut bahagia, kuda bapak sudah kembali bahkan dia membawa temannya, selamat ya"
Bapak tani menjawab lagi: "saya tidak tahu saya sedang untung atau rugi sekarang, hanya Tuhan yang tahu"

Beberapa hari kemudian anak bapak tani tersebut berniat untuk melatih 4 kuda yang masih liar itu supaya lebih jinak, namun sialnya, terjadi suatu kecelakaan pada sang anak, ia jatuh dari kuda sehingga kakinya patah dan tidak bisa jalan. Sekali lagi tetangganya datang dan berkata: "pak, saya ikut sedìh, ternyata justru karena kedatangan kuda-kuda baru anakmu jadi celaka" dan lagi bapak tani menjawab: "saya tidak tahu saya sedang untung atau rugi sekarang, hanya Tuhan yang tahu"

40 hari kemudian, perang melanda negara itu, dan pemerintah mengumumkan wajib militer bagi setiap pemuda yg sehat jasmani. Untuk ke sekian kali tetangga petani datang mengunjungi dan berkata: "wah untung saja anakmu patah kakinya sehingga dia tidak dibolehkan ikut wajib militer, coba kakinya sehat, dia akan ikut berperang dan mungkin dia bisa cacat, atau bahkan mati karenanya" lagi-lagi bapak petani menjawab: "saya tidak tahu saya sedang untung atau rugi sekarang, hanya Tuhan yang tahu"

Sebuah teladan sederhana yg nampaknya mudah namun sangat sulit dilakukan oleh kita dalam hidup keseharian kita: Sikap tulus dan berserah diri akan kehendak Bapa.

Sebagai pemuda katolik, kitapun telah membaca, mendengar, melihat teladan dari bunda kita Santa Perawan Maria, dengan berkata : "aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu itu" sebuah pernyataan iman luar biasa yang tidak mungkin dilakukan seorang manusia biasa tanpa pendampingan roh kudus. Kenapa luar biasa? Sebenarnya Maria sendiri tahu bahwa dengan "mengandung tanpa seorang ayah" dia akan menghadapi banyak cela dari tetangganya, dan itu juga mengancam nyawanya, namun dia begitu setia pada kehendak Bapa, sehingga dia menerima hal itu tanpa syarat.

Akankah kita sanggup melakukan hal yg sama jika seandainya suatu saat Tuhan meminta suatu hal yg berat dalam hidup kita? Sanggupkah kita menerima segala sesuatu yang bisa menjadi kehendak-Nya? Sanggupkah kita tidak menolak apapun yang jadi rencana-Nya?

Dalam belajar akan hal ini saya sendiri terus berpegang pada kata-kata bunda Teresa dari kalkuta: "God doesn't require us to succeed, He only requires us to try" (Tuhan tidak memanggil kita untuk sukses, Dia memanggil kita untuk setia)

23 September 2008

Keikhlasan

"I am not sure exactly what heaven will be like, but I know that when we die and it comes time for God to judge us, He will not ask, how many good things you have done in your lifes? rather He will ask, how much love did you put into what you did?"
(bunda Theresa dari Kalkuta)

Kata-kata bunda tersebut mengingatkan saya akan sebuah cerita:
Menjelang hari raya serasa makin bertambah banyak saja peminta-minta di jalan umum. waktu itu, saya beserta istri saya sedang berekreasi. Sampai suatu waktu ada seorang wanita setengah baya yang sedang menggendong anak kecil meminta sedekah kepada istri saya. Belum sempat saya mengucapkan sepatah katapun istri saya sudah meraih uang seribuan dan dia sodorkan kepada peminta-minta itu. Selang beberapa saat kemudian dalam perjalanan selanjutnya ada pikiran yang sangat mengganggu dalam hati saya, dan akhirnya saya utarakan pada istri saya :"wah bu, tadi kita tertipu, lihat saja anak yang digendong perempuan itu (sambil saya menunjuk ke peminta-minta tadi)dia sama sekali tidak mirip dengan ibunya, pasti dia cuma menyewa anak orang lain sebagai kedok dalam pekerjaannya biar kita merasa kasihan pada mereka". Istri saya melihat sebentar ke arah peminta-minta tadi. Kemudian dia menjawab dengan jawaban yang sangat luar biasa:"sudahlah pak, seribu rupiah tidak akan menjadikan kita miskin, dan tidak menjadikannya kaya. Lagipula kita juga tidak tahu apa perempuan itu benar-benar membutuhkannya atau tidak. Lebih baik kalau kita memberi, karena kalau kita tidak memberi dan ternyata perempuan itu benar-benar memerlukan bantuan kita dan misal kemudian mereka mati kelaparan karena banyak orang yang berpikiran seperti kita lalu tidak memberinya sedekah maka kita akan sangat berdosa".
Saya tersadar akan jawaban istri saya, saya sangat kagum akan jawaban istri saya itu dan akan ketulusan hatinya, lalu iseng saya tanya lagi padanya:"bu, kira-kira kalau Tuhan sendiri berada pada posisi kita tadi bagaimana ya? Apa yang akan Tuhan lakukan?". istri saya menjawab "Mungkin Tuhan akan memberi 10ribu atau bahkan 100ribu"

20 September 2008

Analogi Surga dan Neraka

Alkisah ada seorang yang baru saja meninggal dunia. rohnya melayang ke akherat dan disana bertemu dg penjaga gerbang surga-neraka.
Oleh dia diperlihatkanlah kepada orang tersebut dua gerbang raksasa yang menjadi pintu masuk surga, dan neraka.
orang tersebut lalu mengintip satu persatu apa yang terjadi di dalam ruang yang digawangi gerbang tersebut.

Di gerbang satu, yang disebut surga dia melihat ada satu meja perjamuan makan besar dimana ada tampak begitu banyak makanan lezat di atasnya.
kemudian dia melihat di sekeliling meja perjamuan itu duduk banyak orang yang kesemuanya tampak berbahagia, suasana begitu hangat tampaknya.

Kemudian orang tersebut mengintip di gerbang yg kedua, yang disebut neraka. dia melihat meja yang sama yang juga di atasnya tampak hidangan-hidangan lezat yang sama persis dengan yang orang tersebut lihat tadi di gerbang satu.
namun anehnya, orang2 yang duduk di sekeliling meja perjamuan itu semua diam, tak terlihat ada senyum atau air muka bahagia di wajah mereka. suasana di situ terlihat begitu dingin dan kaku.

Orang terebut terheran2, lalu dia bertanya pada Penjaga. "Tuan, apa gerangan yang terjadi pada orang-orang ini? kenapa mereka tak bisa berbahagia seperti yg saya lihat tadi di gerbang surga, sedangkan merka menghadapi hidangan yang sama lezat dan sama banyaknya dengan di surga?"
Kemudian Penjaga gerbang menjawab, "lihatlah tangan dan kaki orang-orang itu!"

Ternyata baik di gerbang surga maupun neraka masing-masing tangan dan kaki orang-orang yang duduk mengelilingi meja sama-sama terikat kuat dengan seutas tali tampar yang kokoh sehingga mereka tidak bisa mengambil makanan di hadapannya.

Lantas penjaga itu melanjutkan, " lihatlah orang-orang yang duduk di neraka, mereka hanya terdiam memandangi makanan-makanan itu. sambil saling berprasangka satu sama lain, takut bagiannya di ambil oleh orang-orang di sebelah mereka. coba apa yang kau lihat di surga?
lihatlah, meskipun orang-orang itu sama-sama terikat mereka berusama mengambil sendok dengan mulutnya, kemudian mengambilkan makanan dihadapannya dan kemudian menyuapkannya pada orang yang duduk di sebelahnya, begitu mereka melakukan hal yang sama satu sama lain, sehingga mereka semua dapat tertawa bahagia karena mereka semua saling melayani."
Dari cerita di atas kita bisa mengambil sebuah pegangan, dalam hidup tak perlulah kita meributkan soal apa upah kita kelak, atau sangatlah memalukan jika kita masih berkutat dengan menghitung-hitung pahala yang kita dapat.
ternyata surga tidak jauh-jauh amat dengan hidup kita jika kita saling melayani satu sama lain.

cerita ini saya bagikan bukan untuk menyudutkan siapapun, tapi saya sangat bersyukur jika tulisan ini bisa bermanfaat bagi kita semua, apapun latar belakang kita.

21 August 2008

Percaya?

"Karena telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya."
(Yoh 20:29)
Barangkali, ini adalah suatu tantangan terberat bagi orang2 israel waktu itu. Sering saya membayangkan bagaimana seandainya kita hidup pada jaman itu. Tiba-tiba saja ada sesosok manusia yang mengaku diri sebagai Anak Allah. Apakah kita akan seperti imam-imam kepala yang selalu mengkritisi Dia? Seperti algojo-algojo yang haus akan darah-Nya? Atau kita akan seperti para Rasul? Seperti perempuan-perempuan yang menangisi Dia? Seperti Veronika? Saya sendiri mungkin tidak bisa menjawab pertanyaan ini. Bagaimana dengan kita semua?
Lalu bagaimana kalau itu terjadi pada jaman sekarang? Apa yang akan kita lakukan?

17 August 2008

Satu hati... Untuk merdeka.


Hari ini usia bangsa kita genap 63 tahun. Pertanyaan yang seringkali muncul adalah: "Apakah dalam jangka waktu 63 tahun merdeka ini kita sudah merasa benar-benar merdeka?".
Suatu pertanyaan yang seolah-olah berbau provokatif, dan kita sering hanyut bersamanya. Kita biasanya akan menjawab:"belum, buktinya negara kita merdeka, namun saya masih saja miskin, sedang orang-orang berdasi itu masih saja sering ambil keuntungan dari orang-orang seperti saya", "belum, masih banyak pengangguran seperti saya yang menunggu nasib yang begitu kabur dari bayangan", dan masih banyak lagi keluhan-keluhan lain. Memang, semuanya itu tidak salah. Akan tetapi, kenapa kita masih suka melempar kesalahan pada orang lain?. Seringkali kita hanya berpikir bahwa kata 'merdeka' berarti bahwa kita bebas dari rasa takut, kita bebas dari belenggu, bebas dari kemiskinan, dan semacamnya
Yang menyangkut
Pemenuhan hak-hak kita. Padahal, disamping itu semua, kata 'merdeka' juga mengandung makna bebas dari iri hati, bebas dari prasangka buruk, bebas dari egoisme, bebas dari ketidakjujuran, dan hal-hal mengenai kewajiban kita.
Rupanya kita masing-masing masih suka menganaktirikan kewajiban. Kenapa? Barangkali bangsa kita memang belum sepenuhnya merdeka.

Merdekalah bangsaku.

10 August 2008

Mukjizat

Tersebar kabar di seluruh kota bahwa di sebuah panti jompo terjadi mukjizat setiap hari.
Kabar itu sampai di telinga konglomerat yg shaleh yg tinggal di luar kota. Segera setelah dia mendengar kabar itu dia mengambil cuti untuk melihat mukjizat itu. Maka diapun berangkat menu panti jompo tersebut dan menginap di sebuah penginapan.
Satu hari, dua hari, sampai satu minggu dia menunggu dan selalu rajin mendatangi panti itu untuk melihat adanya mukjizat. Namun, dia merasa tidak ada sesuatu yg menarik di sana, semua terasa biasa saja. Dia merasa telah dibohongi oleh kabar itu. Akhirnya konglomerat tersebut menanyakan kepada salah satu penghuni panti jompo itu, "maaf bapak, apa benar di sini pernah terjadi mukjizat?" tanyanya kepada penghuni panti jompo itu. Bapak tua yang ditanyai tersenyum dengan ekspresi wajah yang penuh keceriaan, jawabnya: "benar sekali tuan, di sini setiap hari selalu terjadi mukjizat". Dengan agak jengkel konglomerat itu bertanya lagi:"bapak tidak usah berbohong pada saya, saya sudah seminggu di sini tetapi tidak terjadi sesuatu di panti ini!", bapak tua itu kemudian menjawab: "untuk apa saya berbohong pada tuan? Benar di sini selalu terjadi mukjizat tiap hari. Saya setiap malam tidur dan paginya masih bisa bangun, teman saya banyak yang begitu tidur tidak bisa bangun lagi".

Seringkali kita hanya berharap dan memandang mukjizat yang besar, padahal setiap hari selalu ada mukjizat besar dari Tuhan, namun kita sering tidak menyadarinya.

09 August 2008

Kebahagiaan

Seorang pertapa bijak turun dari biara untuk memenuhi undangan gubernur.

Dalam perjalanannya, dia sering berhenti karena melayani orang yang menyapanya.
Pertama dia bertemu dengan seorang pejabat teras, "Guru, lihatlah sekarang gaji saya sudah cukup besar, sepuluh kali lipat banyaknya jika dibandingkan dengan penghasilan tukang becak itu selama seminggu" kata pejabat itu dengan bangga.

Kemudian sang pertapa bertemu tukang becak, katanya:"Guru, hari ini penumpang saya cukup banyak, lumayan lah, saudara saya yang pemulung saja tidak mungkin bisa memperolehnya dalam sehari".

Dalam perjalanan berikutnya, Sang Pertapa bertemu dengan pemulung itu, dia berkata:"Guru, saya dengan begini saja bisa mendapatkan penghasilan yg cukup, pengemis tua itu sudah mengelilingi seluruh kota hanya mendapatkan 1 bungkus nasi saja" lalu Pertapa itu melanjutkan perjalanan lagi.

Yang terakhir sang pertapa bertemu dengan pengemis tua itu, "Guru,saya sangat bersyukur bisa memperoleh 1 bungkus nasi untuk makan saya hari ini, 2 saudara saya dirumah saja sedang kelaparan disana". Kata pengemis itu.

Lalu pertapa itu kembali ke biaranya dengan berlinang airmata.

Seringkali kita membandingkan kebahagiaan yang kita peroleh dengan orang di sekitar kita, bukankah bangga atas kebahagiaan diri dengan membandingkan dengan orang lain itu sama saja dengan kita tertawa di atas penderitaan orang lain?