Ini hanyalah sebuah dongeng yang biasa dikisahkan anak-anak kepada ibunya sebelum sang ibu merebahkan tubuhnya di peraduan. Dan, pelan-pelan—sambil memeluk boneka kesayangan—sang ibu hanyat dalam lelap impian.
“Kepada ibu, kau hanya menceritakan dongeng tentang negeri-negeri yang jauh dan dingin bersalju : cinderella, Thumbelina, Alice in Wonderland, Emperor’s New Suit dan Lady Mermaid. Tidak adakah dongengan indah tumbuh dari negeri tropis yang hangat, Nak?”
“Negeri-negeri jauh, salju dan laut biru selalu menyimpan eksotisme tersendiri,Bu. Sementara negeri tropis lebih banyak menyimpan sejarah yang berdarah. Justru karena kita begitu dekat dengannya. Tetapi jangan risau, Bu, karena keindahan adalah milik semesta. Ia ada di mana-mana. Di negeri dingin bersalju atau di negeri permai dengann nyiur melambai. Bukankah wangi bunga-bunga padma juga lebih sering ditemukan di atas lumpur rawa-rawa?”
“Kalau begitu, ceritakanlah keindahan itu padaku, Nak”
maka, demikianlah, anak itu bercerita kepada ibunya, meskipun tak yakin bahwa ceritanya mengandung keindahan seperti yang diharapkan oleh ibunya.
Konon, pada zaman ini ada seorang gadis yang mencintai wajahnya sendiri. Gadis itu bernama danti Kukulwati. Ia seorang gadis biasa—tentu saja—seperti gadis-gadis lain pada umumnya. Ia bukan peri, bukan puteri atau permaisuri—seperti yang sering digambarkan dalam dongeng-dongeng Parsi—meski ia pun cantik.
Danti seorang mahasiswi di sebuah perguruan tinggi. Sebagai mahasiswi, danti cukup pintar dan rajin kulish. Ia jarang membolos. Tetapi hari ini, Danti tidak masuk kuliah gara-gara ada jerawat tumbuh di hidungnya yang mungil. Jerawat itu berwarna merah, di tengahnya ada putih serupa nanah. Dan Danti sangat membencinya. Ia seperti sepercik noda pada susu sebelanga. Sepucuk duri pada kenyal daging wajahnya. Ia tak habis pikir bagaimana jerawat itu bisa tumbuh di sana. Padahal, ia rajin mencuci wajahnya dengan facial foam anti acne. Ia tidak pernah makan makanan berlemak dan berminyak, apalagi makan kacang yang konon dapat membuat jerawat tumbuh lebat. Pokoknya segala cara telah ia lakukan demi menghindari tumbuhnya jerawat sialan itu. toh jerawat itu datang juga. Tepat di hidungnya. Danti merasa dikhianati entah oleh siapa. Mungkin oleh tubuhnya sendiri. ia berpaling kepada cermin dan memandangi wajahnya di seberang sana. “Aku masih begitu muda. Mungkins ekarang ini sedang cantik-cantiknya.” Danti memandangi bagian tubuhnya satu per satu. Rambutnya, seperti rambut bintang iklan samphoo: lurus, hitam dan panjang. Matanya bening, sebening air telaga tempat para pengembara membasuh muka dan melepas dahaga. Bibrnya merah, semerah manggis terbelah. Dagunya, pipinya, lentik lembut bulu matanya. Semua nyaris sempurna. “Tak dapat tiada, pemiliknya pasti seorang peri yang baru turun dari surga.” Begitulah Danti sepakat dengan kesimpulannya sendiri. ia masih mengagumi wajahnya di depan kaca. Persis seperti Narciscus memandangi wajahnya yang mengambang di permukaan kolam dan kemudian tercebur ke dalamnya. Tapi danti tidak tercebur ke dalam cerminnya. Ia hanya merasa getir ketika pandangnya tertumbuk pada sebutir jerawat di hidungnya. Tak adakah kecantikan yang sempurna sehingga setiap keindahan harus dibuntuti oleh bayang-bayangnya. Kecantikan selalu dibayangi ketuaan. Dan keabadian dibayangi kesementaraan. Atau Tuhan takut tergoda seandainya di atas bumi ini ada manusia yang cantik begitu rupa sampai membuatnya atak sempat memejamkan mata atau sejenak lupa mengatur peredaran planit dan gerak semesta. Danti menyadari bahwa kecantikannya tak mungkin abadi. Sungguh pun ia ingin selalu menunda perjalanan usia menuju kutub bernama tua.
“Akh, seandainya kau tidak pernah ada<” katanya kepada jerawat, “tentu aku akan lebih bahagia. Aku akan merasa lebih berharga. Dengan percaya diri , aku akan kuliah tiap hari, duduk di bangku paling depan, mendengarkan kuliah dengan cermat dan...” Danti mengeluhkan nasibnya tapi seseorang yang di dalam kaca itu diam saja. Malah seperti ingin memalingkan muka.
Danti merasa kesal. Ia ingin memecah cerminnya. Tetapi diurungkannya. Ia melemparkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tetapi bukan untuk tidur. Di dinding tergantung sebuah jam. Detik-detik waktu terus berjalan tapi tak pernah merasa bosan dan tak perlu merasa tua. Biar pun usianya mungkin lebih purba dari semesta. Ia mencatat setiap kejadian di dunia. Dan, dengan rasa bangga sekaligus terluka, mengamati segala perubahan yagn ada. Perubahantentang cara manusia memandang dirinya. Tentang cara wanita memandang kecantikannya. Danti merasa iri pada jam dinding itu atau pada waktu yang bersemayam di situ. Danti menerawang. Pandangan matanya tersebar di langit-langit kamar. Tiba-tiba telinganya menangkap suara hujan, suara burung bernyanyi atau merintih mencari persembunyian di bawah rimbun dedaunan. Suara yang begitu biasa tetapi mendadak terasa lain di telinganya. Ia baru sadar bahwa sejak menginggalkan kampungnya setahun yang lalu, ia menjadi begitu sibuk dengan kuliah, dan bukan kuliah. Di kepalanya, berjejal diktat-diktat pengetahuan. Di matanya, tergambar iklan-iklan kecantikan. Di telinganya, terdengar musik dan hingar-bingar diskotik. Dan tidak ada tempat untuk ricik hujan, desir angin, hawa dingin pegunungan, dan kicau burung di pepohonan. Suara hujan itu mengantarkannya pada sebuah kenangan saat ia masih kanak-kanak dan suka bermain di bawah hujan. Mendengarkan bunyi ‘tik-tik-tik’di atas genting. Atau, berjingkrak-jingkrak kegirangan sambil kedua tangan berusaha menangkap tetes-tetes hujan. Dan ibu menanti di depan pintu dengan segenap amarah. Lalu meluncurlah berbagai nasihat dan ceramah bahwa bermain hujan dapat menyebabkan demam, pakaian kotor dan ibu harus banyak mencuci dsb dsb.
Ibu. Tiba-tiba Danti rindu pada ibunya. Ibunya seorang perempuan desa yagn sederhana, yang menganggap kecantikan fisik bukanlah hal yang utama. “kelembutan jiwa dan kehalusan budilah yang utama. Bunga-bunga boleh saja punya mahkota warna-warni yang membuatnya cantik bak peri dari negri mimpi. Tetapi, hakikat sebuah bunga terletak pada bijinya. Pun wanita. Boleh saja ia berwajah cantik, berkaki panjang, berleher jenjang, berdada besar dsb dsb, tetapi hakikat wanita ada di rahimnya. Kaena di sanalah ia mengandung dan merawat kehidupan, karena dari sanalah terpancar aura keibuan.” Begitulah suatu hari ibunya pernah berpesan. Sejenak Danti teringat pada pesan yang pernah ia lupakan bahkan mungkin dianggapnya tak pernah ada dalam kehidupan. “Ibu perempuan terbaik yang pernah kukenal. Seutuhnya ia memiliki kriteria keibuan. Hanya saja, ia tak pernah tahu betapa menderitanya wanita yang punya jerawat di wajahnya” dan nasihat ibunya kembali terbang di udara.
Ini bukanlah gejala yang patut dirisaukan. Karena ini adalah zaman ketika para ibu tak lagi berhak mendidik anak-anaknya. Pendidikan telah sepenuhnya diserahkan kepada televisi, iklan, fashion, mall dan teman-teman sebaya mereka. Kaena itu, tidak taat pada orang tua bukanlah kejahatan yang harus diancam dengan hukuman apalagi sampai dituduh sebagai dosa yang ujung-ujungnya adalah neraka. Toh, anak-anak kita telah amnesia pada kosakata purba nan kadaluarsa seperti dosa, neraka dll. Pun Danti yang tadinya anak sederhana dari sebuah desa kecil yang namanya tak ada dalam peta, yang suka bermain di kali tanpa sandal dan dengan kaki korengan, kini telah manjadimahasiswi yang harus selalu tampil modis dan trendy, yang menjadi tidak percaya diri hanya karena ada jerawat di wajahnya. Sejak kapan manusia harus memuja keindahan raga? Dan kenapa wanita harus berjuang keras untuk mendapatkan kecantikan sempurna yang toh akan hancur juga.
“Suatu saat, Ti,” tiba-tiba Danti mendengar lagi suara ibunya, sepeti dikabarkan oleh angin dari sebuah tempat teduh nun jauh di sana, “Kecantikan harus menyerahkan dirinya kepada usia. Kau pikir kau bisa memilih untuk tidak menjadi tua, keriput dan berwajah menyeramkan? Karena itu, Ti, tak ada artinya berjuang keras hanya untuk sesuatu yang kau tahu akan sia-sia. Bukannya ibu menyuruhmu untuk meremehkan tubuhmu. Ibu bangga punya anak gadis yang ayu rupawan dan tetap perawan sampai malam pertama pernikahan. Namun, ibu lebih bangga lagi mempunyai anak gadis yang baik hati dan berbudi luhur, yang tahu tata krama dan sopan-santun.”
“Bagaimana mungkin aku—seorang wanita—tidak memperhatikan penampilan sementara banyak teman pria merasa harus selalu rapi dan wangi, harus rajin ke salon, mencukur kumis, memotong kuku, memakai parfum,..”
protes Danti tetapi cukup dalam hati.
Ibu tak pernah sekolah. Ia hanya berteman dengan perabot rumah tangga dan sayur-sayuran serta padi menguning di sawah. Tapi kenapa tiba-tiba ia menjdi pembela mazhab Platonis dan Augustinian yang begitu memuja jiwa. Sementara zaman telah sempurna berputar haluan. Orang-orang lebih memuja keindahan raga dan segala yang dapat disentuh dan dinikmati dengan indera. Bukankah badan juga cermin dari jiwa? Aku merawat tubuhku sebagai sebentuk penghormatan kepada hidupku. Danti seperti menemukan apologia atas perilakunya. Danti kembali menghadap cerminnya. Bayangan di seberang sana menatapnya begitu rupa sampai Danti merasa tersakiti olehnya. Tatapna itu seperti menelanjanginya, menjadikan dirinya sebuah objek. Tatapan itu tepat menghunjam ujung hidungnya tempat dimana jerawat sialan itu bertahta. Begitu juga ia bayangkan pandangan orang-orang yang nanti bertemu dnegannya.
Dan Danti tidak msuk kuliah selama beberapa hari. sampai jerawatnya pulih benar dan ia bisa berangkat kuliah dengan wajah berbinar. Dongeng ini sebelumnya belum tamat. Tetapi si anak telah mulai mengantuk. Karena itu, ceritanya mulai tidak karuan dan agak hilang imajinasi puitiknya. Sedangkan sang ibu sudah sejak tadi telelap. Mungkin ia sudah bermimpi tentang negri jauh yang penuh bunga warna-warni saat musim semi atau sebuah negeri tropis yang hangat dan tanahnya sangat subur sehingga nyaris seluruhnya adalah hutan lebat. Atau barangkali sebuah negeri baru, bekas negeri tropis yang telah kehabisan hutan dan tinggal bangunan-bangunan tinggi menjulang—seolah ingin menyembunyikan kemiskinan.
Apa boleh buat, dongeng ini harus diahiri meski belum tamat. Toh dongeng ini bukan satu-satunya. Di dunia ketiga ini masih banyak dongeng serupa. Tentang Elena yang tidak latihan menari gara-gara kehabisan parfum padahal ia takut pada kecut bau keringatnya sendiri. buuurket, kata-teman-temannya. Tentang Astri yang nggak jadi menyanyi gara-gara wignya tertinggal di kamar mandi. Tentang mbah Ratmi yang nggak jadi jualan gorengan di pasar gara-gara gigi emasnya terjatuh di jalan. Tentang dhik Dewi yang nggak jadi sekolah gara-gara belum dibelikan kalung mungil dengan liontin bunga melati seperti yang pernah dibayangkannya melingkar di leher cinderela. Dan cerita indah lainnya yang anda sendiri dapat mengerti maksudnya. Inikah yang telah diberikan peradaban pada manusia? Atau hanya orang di negeri ini saja begitu bangga mengalaminya.
Sebelum tidur di smping ibunya, anak itu masih sempat meraba hidungnya. Dan ia merasa ada yang menusuk-nusuk hatinya.
07 October 2009
25 April 2009
Kerja keras
Berawal dari bangun tidur mata saya terpaku pada sesuatu yang bergerak di dinding..(jangan horor dulu!)
Saya melihat sesuatu yang kecil-mungkin seukuran ujung kuku manusia-sepertinya benda itu adalah potongan rumah lebah namun bisa bergerak!
Saya rapatkan pandangan saya dari dinding, mencoba melihat dari sisi yang berbeda untuk mengetahui apa sebenarnya yang bisa membuat benda itu bergerak.
Ternyata, ada seekor semut kecil yang menariknya dengan capit yang dimilikinya. Kalau dilihat dari ukuran, semut itu hanya sebesar sepersepuluh dari benda itu, dan sepertinya dia ingin membawa benda itu hingga atap rumah yang kira-kira setinggi 4m!. Sungguh usaha yang keras.
Bisa kita bayangkan, betapa berat beban yang harus dia tanggung untuk membawa benda itu sendirian hingga atas. Mungkin kita berpikir, karena semut tidak mempunyai kemampuan berpikir dìa mau mengangkat benda itu hingga atap rumah yang jaraknya ratusan kali lipat ukuran tubuhnya. Namun, bagaimana jika ternyata semut itu sebenarnya juga berpikir, bagaimana jika dia berpikir di atas sana koloninya sangat membutuhkan makanan dan rumah lebah ini pastilah sangat enak untuk dimakan, maka aku harus membawanya bagaimanapun keadaannya?
Memang saya tidak bisa memastikan mana yang benar, pemikiran kita bahwa semut itu melakukan tindakan bodoh atau justru heroik. Namun saya akui, sungguh usaha yang luar biasa yang dilakukan semut itu, mengangkat benda yg ukurannya lebih dari 10 kali tubuhnya dan berjarak ratusan atau ribuan kali ukuran tubuhnya dan masih harus melawan gravitasi bumi.
Bagi semut itu capek adalah kegagalan, karena begitu dia capek dan beristirahat kemungkinan besar dia akan jatuh menyerah dengan gravitasi. Jadi dia terus melangkah maju.
Saya berpikir, barangkali posisi yang sama seperti saat saya mengamati semut itu begitu pulalah Tuhan mengamati kita. Saat saya melihat semut itu mengangkat dengan cepat saya ikut antusias melihatnya, saat semut itu melambat rasa khawatir bahwa semut itu akan menyerah muncul dalam benak saya, bisa saja saya membantu semut itu dengan memindahkan rumah lebah itu sampai atas, namun belum tentu dia mengerti bahwa saya melakukan itu untuk membantu dia. Barangkali sama dengan Tuhan, Dia melihat kerja keras kita, dan ikut prihatin saat kita dalam keputusasaan. Dan Tuhan pun sebenarnya bisa secara langsung membantu kita, namun seperti semut tadi, mungkin kita tidak mengerti maksudnya, Tuhan pasti lebih ingin kita puas akan apa yang kita peroleh dari hasil jerih payah kita, seperti saya berharap semut tadi bisa berhasil sampai atas dengan membawa rumah lebah tadi.
Semoga bermanfaat bagi kita semua yang sedang dalam kegalauan.
Semoga Tuhan memberkati.
Saya melihat sesuatu yang kecil-mungkin seukuran ujung kuku manusia-sepertinya benda itu adalah potongan rumah lebah namun bisa bergerak!
Saya rapatkan pandangan saya dari dinding, mencoba melihat dari sisi yang berbeda untuk mengetahui apa sebenarnya yang bisa membuat benda itu bergerak.
Ternyata, ada seekor semut kecil yang menariknya dengan capit yang dimilikinya. Kalau dilihat dari ukuran, semut itu hanya sebesar sepersepuluh dari benda itu, dan sepertinya dia ingin membawa benda itu hingga atap rumah yang kira-kira setinggi 4m!. Sungguh usaha yang keras.
Bisa kita bayangkan, betapa berat beban yang harus dia tanggung untuk membawa benda itu sendirian hingga atas. Mungkin kita berpikir, karena semut tidak mempunyai kemampuan berpikir dìa mau mengangkat benda itu hingga atap rumah yang jaraknya ratusan kali lipat ukuran tubuhnya. Namun, bagaimana jika ternyata semut itu sebenarnya juga berpikir, bagaimana jika dia berpikir di atas sana koloninya sangat membutuhkan makanan dan rumah lebah ini pastilah sangat enak untuk dimakan, maka aku harus membawanya bagaimanapun keadaannya?
Memang saya tidak bisa memastikan mana yang benar, pemikiran kita bahwa semut itu melakukan tindakan bodoh atau justru heroik. Namun saya akui, sungguh usaha yang luar biasa yang dilakukan semut itu, mengangkat benda yg ukurannya lebih dari 10 kali tubuhnya dan berjarak ratusan atau ribuan kali ukuran tubuhnya dan masih harus melawan gravitasi bumi.
Bagi semut itu capek adalah kegagalan, karena begitu dia capek dan beristirahat kemungkinan besar dia akan jatuh menyerah dengan gravitasi. Jadi dia terus melangkah maju.
Saya berpikir, barangkali posisi yang sama seperti saat saya mengamati semut itu begitu pulalah Tuhan mengamati kita. Saat saya melihat semut itu mengangkat dengan cepat saya ikut antusias melihatnya, saat semut itu melambat rasa khawatir bahwa semut itu akan menyerah muncul dalam benak saya, bisa saja saya membantu semut itu dengan memindahkan rumah lebah itu sampai atas, namun belum tentu dia mengerti bahwa saya melakukan itu untuk membantu dia. Barangkali sama dengan Tuhan, Dia melihat kerja keras kita, dan ikut prihatin saat kita dalam keputusasaan. Dan Tuhan pun sebenarnya bisa secara langsung membantu kita, namun seperti semut tadi, mungkin kita tidak mengerti maksudnya, Tuhan pasti lebih ingin kita puas akan apa yang kita peroleh dari hasil jerih payah kita, seperti saya berharap semut tadi bisa berhasil sampai atas dengan membawa rumah lebah tadi.
Semoga bermanfaat bagi kita semua yang sedang dalam kegalauan.
Semoga Tuhan memberkati.
29 March 2009
Iman Yang luar biasa
Alkisah di suatu desa tinggalah seorang petani yg sederhana, dia tinggal di sebuah gubuk sederhana bersama seorang anak laki-lakinya dan seekor kuda jantan piaraannya.
Suatu ketika, kuda bapak petani itu lepas dari kandang dan tidak pulang selama beberapa hari. Karena mendengar hal itu, tetangga bapak petani merasa kasihan, dan mencoba menyampaikan rasa belasungkawanya kepada bapak tani. Dia berkata: "pak, saya ikut berbelasungkawa ya atas kepergian kudamu". Lantas, bapak petani menjawab: "saya tidak tahu saya sedang untung atau rugi sekarang, hanya Tuhan yang tahu"
1minggu berlalu, dan pada hari yang ke delapan ternyata si kuda pulang kembali ke rumah bapak petani dan ia tidak sendiri! Melainkan membawa 'pacar'nya. Tidak tanggung-tanggung dia membawa 4 kuda betina yg masih liar, sekonyong-konyong petani itu menjadi kaya, kudanya sekarang menjadi 5 ekor. Mendengar hal itu, tetangga petani datang lagi dan berkata pada bapak tani: "pak, saya sungguh ikut bahagia, kuda bapak sudah kembali bahkan dia membawa temannya, selamat ya"
Bapak tani menjawab lagi: "saya tidak tahu saya sedang untung atau rugi sekarang, hanya Tuhan yang tahu"
Beberapa hari kemudian anak bapak tani tersebut berniat untuk melatih 4 kuda yang masih liar itu supaya lebih jinak, namun sialnya, terjadi suatu kecelakaan pada sang anak, ia jatuh dari kuda sehingga kakinya patah dan tidak bisa jalan. Sekali lagi tetangganya datang dan berkata: "pak, saya ikut sedìh, ternyata justru karena kedatangan kuda-kuda baru anakmu jadi celaka" dan lagi bapak tani menjawab: "saya tidak tahu saya sedang untung atau rugi sekarang, hanya Tuhan yang tahu"
40 hari kemudian, perang melanda negara itu, dan pemerintah mengumumkan wajib militer bagi setiap pemuda yg sehat jasmani. Untuk ke sekian kali tetangga petani datang mengunjungi dan berkata: "wah untung saja anakmu patah kakinya sehingga dia tidak dibolehkan ikut wajib militer, coba kakinya sehat, dia akan ikut berperang dan mungkin dia bisa cacat, atau bahkan mati karenanya" lagi-lagi bapak petani menjawab: "saya tidak tahu saya sedang untung atau rugi sekarang, hanya Tuhan yang tahu"
Sebuah teladan sederhana yg nampaknya mudah namun sangat sulit dilakukan oleh kita dalam hidup keseharian kita: Sikap tulus dan berserah diri akan kehendak Bapa.
Sebagai pemuda katolik, kitapun telah membaca, mendengar, melihat teladan dari bunda kita Santa Perawan Maria, dengan berkata : "aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu itu" sebuah pernyataan iman luar biasa yang tidak mungkin dilakukan seorang manusia biasa tanpa pendampingan roh kudus. Kenapa luar biasa? Sebenarnya Maria sendiri tahu bahwa dengan "mengandung tanpa seorang ayah" dia akan menghadapi banyak cela dari tetangganya, dan itu juga mengancam nyawanya, namun dia begitu setia pada kehendak Bapa, sehingga dia menerima hal itu tanpa syarat.
Akankah kita sanggup melakukan hal yg sama jika seandainya suatu saat Tuhan meminta suatu hal yg berat dalam hidup kita? Sanggupkah kita menerima segala sesuatu yang bisa menjadi kehendak-Nya? Sanggupkah kita tidak menolak apapun yang jadi rencana-Nya?
Dalam belajar akan hal ini saya sendiri terus berpegang pada kata-kata bunda Teresa dari kalkuta: "God doesn't require us to succeed, He only requires us to try" (Tuhan tidak memanggil kita untuk sukses, Dia memanggil kita untuk setia)
Suatu ketika, kuda bapak petani itu lepas dari kandang dan tidak pulang selama beberapa hari. Karena mendengar hal itu, tetangga bapak petani merasa kasihan, dan mencoba menyampaikan rasa belasungkawanya kepada bapak tani. Dia berkata: "pak, saya ikut berbelasungkawa ya atas kepergian kudamu". Lantas, bapak petani menjawab: "saya tidak tahu saya sedang untung atau rugi sekarang, hanya Tuhan yang tahu"
1minggu berlalu, dan pada hari yang ke delapan ternyata si kuda pulang kembali ke rumah bapak petani dan ia tidak sendiri! Melainkan membawa 'pacar'nya. Tidak tanggung-tanggung dia membawa 4 kuda betina yg masih liar, sekonyong-konyong petani itu menjadi kaya, kudanya sekarang menjadi 5 ekor. Mendengar hal itu, tetangga petani datang lagi dan berkata pada bapak tani: "pak, saya sungguh ikut bahagia, kuda bapak sudah kembali bahkan dia membawa temannya, selamat ya"
Bapak tani menjawab lagi: "saya tidak tahu saya sedang untung atau rugi sekarang, hanya Tuhan yang tahu"
Beberapa hari kemudian anak bapak tani tersebut berniat untuk melatih 4 kuda yang masih liar itu supaya lebih jinak, namun sialnya, terjadi suatu kecelakaan pada sang anak, ia jatuh dari kuda sehingga kakinya patah dan tidak bisa jalan. Sekali lagi tetangganya datang dan berkata: "pak, saya ikut sedìh, ternyata justru karena kedatangan kuda-kuda baru anakmu jadi celaka" dan lagi bapak tani menjawab: "saya tidak tahu saya sedang untung atau rugi sekarang, hanya Tuhan yang tahu"
40 hari kemudian, perang melanda negara itu, dan pemerintah mengumumkan wajib militer bagi setiap pemuda yg sehat jasmani. Untuk ke sekian kali tetangga petani datang mengunjungi dan berkata: "wah untung saja anakmu patah kakinya sehingga dia tidak dibolehkan ikut wajib militer, coba kakinya sehat, dia akan ikut berperang dan mungkin dia bisa cacat, atau bahkan mati karenanya" lagi-lagi bapak petani menjawab: "saya tidak tahu saya sedang untung atau rugi sekarang, hanya Tuhan yang tahu"
Sebuah teladan sederhana yg nampaknya mudah namun sangat sulit dilakukan oleh kita dalam hidup keseharian kita: Sikap tulus dan berserah diri akan kehendak Bapa.
Sebagai pemuda katolik, kitapun telah membaca, mendengar, melihat teladan dari bunda kita Santa Perawan Maria, dengan berkata : "aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu itu" sebuah pernyataan iman luar biasa yang tidak mungkin dilakukan seorang manusia biasa tanpa pendampingan roh kudus. Kenapa luar biasa? Sebenarnya Maria sendiri tahu bahwa dengan "mengandung tanpa seorang ayah" dia akan menghadapi banyak cela dari tetangganya, dan itu juga mengancam nyawanya, namun dia begitu setia pada kehendak Bapa, sehingga dia menerima hal itu tanpa syarat.
Akankah kita sanggup melakukan hal yg sama jika seandainya suatu saat Tuhan meminta suatu hal yg berat dalam hidup kita? Sanggupkah kita menerima segala sesuatu yang bisa menjadi kehendak-Nya? Sanggupkah kita tidak menolak apapun yang jadi rencana-Nya?
Dalam belajar akan hal ini saya sendiri terus berpegang pada kata-kata bunda Teresa dari kalkuta: "God doesn't require us to succeed, He only requires us to try" (Tuhan tidak memanggil kita untuk sukses, Dia memanggil kita untuk setia)
Subscribe to:
Posts (Atom)